Jejak Langkah

cita, cinta, dan rasa

Di Angkot Malam-Malam

Beginilah nasib orang yang  gak punya opri “ojek pribadi” apalagi supri  “supir pribadi”  kemana-mana harus naik mobil biru yang bentuknya kaya’ roti tawar “mereka menyebutnya angkot…”. ya..sudahlah…katanya Bondan everything gonna be okey…mobil biru itu juga mempertemukanku dengan banyak orang…mengamati fenomena sosial dari sebuah ruang  kecil. Memandang hidup orang lain dari sudut pandangku sendiri…meskipun rasanya tak adil, karena setiap orang kan punya sudut pandang yang berbeda untuk apa yang dilakukannya.

Hari itu belum terlalu malam, tapi sudah  gelap…. masih sekitar jam 6.30… agak gerimis,  jadi jalanan lumayan sepi,  angkot yang kutumpangi pun hanya punya beberapa penumpang, aku, temanku dan beberapa  orang lainnya…tiba-tiba mataku tertuju pada satu orang, rasa ingin tahuku muncul, diam-diam aku mengamatinya, bukanya aku ingin mencampuri urusan orang lain, dia terlihat beda,  rasa penasaranku mulai muncul, dia membawa  tas yang terbuka otomatis aku bisa melihat isinya,,,dari pengamatan indra penglihatanku ada kostum di tas itu,mangkuk kecil, beberapa potong kue, dan uang receh.…melihat itu sampailah aku pada dugaan awal, aku panggil temanku, tak ada kata-kata yang terucap hanya rasa ingin tertawa yang kami tahan…sepertinya kita memikirkan hal yang sama, tentang orang itu….

Turun dari angkot kami langsung saling bertanya apa yang ada dipikiran kita, dan ternyata pikiran kita sama satu kata “pengemis”….

Di malam yang lain, masih dalam sebuah mobil biru yang yang bentuknya seperti roti tawar…bedanya malam itu penuh sesak oleh penumpang…dan lagi-lagi mataku tertuju pada satu orang, selalu saja begini kalo ada hal yang agak aneh penasaranku cepat sekali muncul, kenapa bisa begini, kenapa bisa begitu, meracuni otakku, beda dengan saat diskusi dikelas, penasaran itu sering  atau bahkan nggak muncul samasekali, nalar kritisku tiba-tiba mati suri, pertanyaan kenapa bisa begini, kenapa bisa begitu, tiba-tiba hilang digantikan oleh kalimat ya.. memang sudah begitu….gaya orang yang kuamati kali ini hamper mirip ,dengan orang yang kutemui beberapa hari yang  lalu, membawa tas yang berisi kostum alias seragam kebesaran dan mangkok kecil, untuk uang receh sementara aku tak melihatnya,, orang yang ini agak beda dengan yang rekan seprofesinya  yang kutemui beberapa hari yang lalu..yang ini lebih mbois…hapenya bagus, di angkot telpon-telponan, dan lebih ekspesif, sampai-sampai aku cekikikan melihat gayanya.

Otak ku masih terus berputar-putar, ternyata pengemis juga punya kostum, property pendukung, dan jam kerja. Benar-benar telah terstruktur dengan begitu rapi..bener-bener tak habis pikir.  kenapa bisa begini, kenapa bisa begitu,  masih setia di otak ku…masih tak terjawab. kalau aku bertanya pada mereka pasti jawabannya  mbulet  antar  itu-itu aja..berputar-putar antara cari kerja susah, memang sudah nasib, nggak ada pilihan lain, dan jawaban-jawaban lain yang sudah hampir pasti…karena jawabannya sudah hampir pasti mendingan gak usah tanya…kusimpan saja pertanyaanku di otakku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 28 Mei 2010 by in Ceritaku, Ngerumpi.

Arsip

Pengunjung

  • 67,163 hits
%d blogger menyukai ini: