Jejak Langkah

cita, cinta, dan rasa

Antara Biaya Sekolah dan Rokok

Masih dalam episode perjalanan Trenggalek-Malang. Perjalanan 5 jam selalu memberiku kesempatan untuk mengamati orang lain dalam perjalanan itu, meskipun seringkali kesempatan itu terlewatkan karena aku sering tertidur. Untuk hari ini aku berusaha menjaga mataku agar tetap dimasuki cahaya, karena aku tak mau kejadian beberapa waktu lalu terulang lagi, gara-gara ketiduran aku yang harusnya turun dari bus gak turun karena emang ketiduran, akibatnya rencana perjalanan yang sudah kususun rapi jadi berantakan, hasilnya nyampe di Malang kemalaman, dan ujung-ujungnya dimarahi sama ibuk karena kemalaman…kalau udah gitu, aku  hanya bisa diam seribu bahasa, meskipun pembelaan dan alasanku jauh lebih banyak 10 ribu bahasa,,,,dan sering kali itu terulang  lagi (ingat imbuhan ter- dalam kata terulangi bermakna tidak sengaja), hanya bisa  berdo’a semoga semuanya baik-baik saja dan aku selalu mendapat lindungan-Nya.

Untuk hari ini aku lumayan sukses menjaga mata tetap dimasuki cahaya…..siang itu bus lumayan penuh, kebanyakan adalah anak sekolah, karena emang pas sama jam pulangnya anak sekolahan sekitar jam 2 atau setengah 3an. Berdiri didepanku 3 orang anak sekolahan yang menurutku masih SMP dari seragamnya aku tahu, karena celananya pendek, tapi katanya dia sudah SMA tapi seragamnya belum jadi. Mengamati dia ingin sekali membuatku tertawa tapi saying aku gak punya patner buat tertawa. Dan menahan tawa itu tersiksa juga….dari awal naik tu anak 1 sudah membuatku ingin tertawa dia yang gak bisa bicara bahasa jawa jadi ledekan teman-temanya, kemudian dia sibuk nyari korek buat ngerokok, setelah Tanya kanan-kiri akhirnya dapat korek juga. setelah dapat korek dia nggak menyalakan rokoknya, sampai akhirnya ada bapak-bapak yang menyalakan rokok, dan si anak sekolahan itu nyeletuk…”O…ternyata boleh ya ngerokok di sini” dengan segera dia menyalakan rokoknya. Kemudian si anak sekolahan  yang tadinya berdiri ambil posisi duduk di dekat pintu agar asapnya nggak ganggu orang-orang, “pinter juga ni bocah, tahu ada banyak orang disekitarnya” batinku.  Dan emang bener aku nggak merasa terganggu dengan asap rokok dari anak itu.

Anak sekolahan itu masih begitu menikmati rokoknya, episode selanjutnya ibu-ibu yang ada disampingku mulai beraksi.

Ibu Y : masih SMP kok ngerokok ya,,,,SMP kan mbak ya…???

Aku:  Senym sambil cengar-cengir..

Temenya anak yg ngerokok : bukan SMP bu…tapi SMA….

Ibu Y : tapi itu celananya pendek…

Temennya: iya bu seragamnya belom jadi.

Ibu Y : percuma di sekolahkan kalo kerjaannya cuma gitu, mana sekarang bayar sekolah mahal, masuk SMA aja  ….juta.

Aku: iya bu sekarang sekolah emang mahal (dalam hati sedikit tersindir juga, udah tau sekolah mahal tapi tetep aja suka males-malesan)

Ibu Y masih terus berargumen antara rokok dan sekolah mahal, aku terdiam (mikir antara sekolah mahal dan penyakit malesku, mengamati anak yang begitu menikmati rokonya) sambil sesekali menahan tawai melihat tingkahnya…

Pelajaran hari itu:

[1].  Hargai orang disekitar kita.

[2].  Seorang anak akan meniru perilaku orang tua=orang tua adalah contoh.

[3].  Biaya sekolah mahal.

One comment on “Antara Biaya Sekolah dan Rokok

  1. muji
    21 April 2012

    tidak lengkap yang sya cari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23 Juli 2010 by in Catatan, Ceritaku.

Arsip

Pengunjung

  • 67,163 hits
%d blogger menyukai ini: