Jejak Langkah

cita, cinta, dan rasa

Perjalanan Pulang (dalam Sebuah Gerbong Kereta)

Siang itu perjalanan pulang menuju kota Trenggalek. Saya berangkat dari Malang sekitar jam 10-an. Akhir-akhir ini saya lebih suka pulang naek kereta api, alasannya karena lebih murah juga karena jadwal kuliah saya sudah ndak sepadat semester sebelumnya jadi jadwal pulang lebih fleksibel.
Kalo dulu saya takut naik kereta karena takut lupa turun di stasiun mana, sekarang sudah ndak lagi. Naik kereta itu asyik, meskipun harus berdesak-desakan dan biasanya harus berdiri tapi dikereta kita bisa bertemu barmacam rupa manusia dan tingkah lakunya. Ya sekalian lah mengamati fenomena sosial di sekitar kita.
Sering ibukku bertanya padaku “koq mau sih naek kereta, kan penuh gitu, harus berdiri lagi…” ku jawab aja “naik kereta itu asyik”, bapakku juga pernah tanya “nggak takut apa naik kereta..???” (maklumlah bapakku jarang naik kereta) ku jawab aja “nggak…”. “yowes lah…kapan2 aku juga pengen naik kereta” begitu kata bapakku.
****
Kereta ekonomi itu semacam kotak yang menyimpan puluhan manusia yang berdesak-desakkan, manusia yang ingin mencari transportasi murah meriah terjangkau di kantong.
Sering aku membayangkan seandainya Indonesia punya kereta api kayak di jepang atau Negara-negara eropa kayaknya bakalan asyik banget, kemana-mana bisa cepet. kalau nggak gitu ya dibuatlah jalur kereta api cepat daerah-daerah strategis yang penumpangnya banyak, ya itung-itung memberikan alternative transportasi umum buat masyarakat.
Jalanan di Indonesia terutama di pulau jawa (kalau pulau lain nggak tahu) rasanya semakin sumpek saja. Kendaraan semakin banyak saja. Ya maklum jika masyarakat mencari alternative dari tidak adanya transportasi umum yang nyaman, jadinya ya gitu deh…kredit mobil apalagi motor tambah laris manis sekarang ini.
****
Kereta sudah satu jam lebih berjalan meninggalkan kota Malang, dalam gerbong masih penuh. Dan parahnya aku masih berdiri alias belum dapat tempat duduk. Ku hibur kakiku untuk bertahan menahan berat tubuhku, kuhibur pundakku agar tetap kuat menggendong tas ranselku. “ayolah cepat ada yang turun, biar ada aku bisa segera duduk” hatiku berbicara sendiri. Dibelakangku ada mbak-mbak yang curhat sama pacarnya katanya panas, sumpek, de el el….hatiku langsung besuara “lho mbak lupa ya…ini kan Indonesia”.
Tak lama kemudian ada laki-laki yang mau turun…”Alhamdulillah..akhirnya dapat duduk juga, beristirahatlah wahai kaki…”. Kemudian ada pedangan asongan ngomel-ngomel katanya di gerbong depan ada orang yang nggak mau disenggol, trus sama tu pedangang di suruh naik pesawat atau taksi aja kalau memang nggak mau di senggol. Ow…ternyata ini kereta senggol ya…bukan pasar aja ya ternyata yang ada pasar senggol, kereta juga. sudahlah…yang penting aku udah dapat kursi, saatnya buat duduk santai….
****
Ah dasar manusia….giliran udah dapat kursi udah nggak kepikiran lagi sama kereta-kereta nyaman kayak di Jepang atau Eropa, yang penting duduk nyaman. Coba tadi waktu berdiri…pikirannya kemana-mana. Sekarang kalah deh sama tu kursi…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 13 Mei 2011 by in Uncategorized.

Arsip

Pengunjung

  • 67,163 hits
%d blogger menyukai ini: