Jejak Langkah

cita, cinta, dan rasa

Terbelenggu Dendam (Sebuah cerita pendek)

Semua  itu ada batasnya…
Seluas-luasnya lautan pun ada pantainya….
Begitupun  aku, penuh dengan keterbatasan….
Tak pernah ada yang sempurna….
Karena kesempurnaan sesungguhnya adalah milik-Nya…..
Bukannya aku percaya dengan hukum karma, tapi yang kuyakini adalah setiap sesuatu pasti ada balasanya. Namaku Alysa kata orang aku pendiam tapi menurutku
aku adalah pemberontak, atau lebih tepatnya lagi pendendam. Mungkin karena itulah
aku mengalami penderitaan alias tekanan batin  karena pemberontakan itu.
Orang tuaku selalu mengajarkanku untuk berbuat baik dan menolong orang
yang membutuhkan pertolonganku. Hal itu tertanam kuat dalam diriku, mereka tak
pernah bosan mengingatkan dan memberi contoh tentang kebaikan itu.
Kebaaikan…ya…kebaikan, bukankah kita harus ikhlas dalam setiap kebaikan
kita. Tapi aku manusia biasa, ketika ada orang yang sudah kutolong dan dia
menghianatiku apakah aku masih bisa. Hal itulah yang mendidikku menjadi seorang
pendendam. Tersiksa memang,,,tapi aku tak cukup kuat untuk melawannya…Ya Allah
kuatkanlah aku menghadapi semua makhluk-makhluk-MU, aku menangis di ujung
malam.
Pertemuan kita pun bukan suatu kebetulan…
Semua telah tersurat dalam aturan dan rencananya…..
Manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan agar bisa saling melengkapi….Karena sekali lagi tak ada manusia sempurna…
Delia namanya dia adalah orang yang periang, ringan tangan, sangat berbeda
dengan aku yang lebih sering murung. Hampir separuh umurku aku mengenalnya, kita
sudah bersahabat dari SD waktu itu kelas 6 aku kenal dia di tempatku belajar
menari. Mungkin karena perbedaan itulah yang menyatukan kita hingga kita menjadi
sahabat.
Delia yang periang itu sedikit egois menurutku, seiring berjalannya waktu
keegoisan itu menurutku semakin dan semakin bertambah, entah itu nyata atau
hanya perasaanku saja. Aku jadi tidak suka dengan Delia.
Aku yang selalu ikut memikul penderitaanya tak dia yang tak pernah peduli
dengan perasaanku. Bukannya aku mengharapkan balasan atas kebaikanku, tapi
hatiku tak bisa kubohongi, kau seperti penghancur kepercayaanku.
Malam itu aku menangis untukmu delia sahabatku, mungkin kau tak pernah
menangis untukku, tapi aku pernah, malam ini, ya malam ini aku menangis untukmu.
Kenapa kamu seperti itu Delia, kau menjelma menjadi Dewi dengan segala
keegoisanmu, sedangkan aku kau injak-injak. Kau pikir aku diam karena aku baik atau
karena kau pikir aku sudah mati rasa, tidak delia aku diam karena aku menyiapkan
kekuatanku, dendamku telah engkau bangkitkan, kau membunuhku dengan
keegoisanmu, kau selalu mengira aku tak berperasaan, padahal mataku selalu panas
menahan air mata ketika keegoisanmu menjelema. Kekuatan dendamku sudah sangat
membara.
Maafkan aku jika suatu saat aku harus mundur dari hidupmu. Aku akan
mengejar impianku sahabat, kau yang memaksaku berjalan ketika kamu duduk, dan
kamu juga memaksaku berlari ketika kamu berjalan. Dan suatu saat nanti maafkan aku jika aku harus memaksamu menangis ketika aku benar-benar lari
meninggalkanmu.
seperti gravitasi dan magnet…
kebaikan dan keburukan itu juga tarik menarik….
Ketika kita melakukan kebaikan pada orang lain,
Sebenarnya kita telah menarik kebaikan untuk diri kita sendiri,
Begitupun sebaliknya……..
Purnama malam itu tampak tak sempurna, awan menutupi indahnya
kesempurnaan malam itu, tapi malam itu sang bulan masih nampak begitu anggun
dengan sinarnya.
Aku menatap purnama itu, dengan sejuta mendung di wajahku.
“ada apa to nduk, kamu koq murung gitu…???”
“ah…gak ada apa-apa buk…” jawabku masih sambil menatap purnama.
“Nduk, ibu tahu kamu itu sedang gelisah, hatimu tak tenang”
aku diam saja…
“jangan kau racuni hatimu dengan dendam nduk, hidupmu tak akan pernah tenang
dan akan selalu gelisah, jika masih ada dendam dihatimu, ikhlaskan semua yang
terjadi, serahkan pada yang Kuasa, teruslah kau menjadi orang baik, tak usah kau
meminta imbalan dari orang yang kau tolong, karena Allah yang akan membalasnya…
masih ingatkan hukum tarik –menarik itu…”
Aku masih diam, ibu berlalu sambil mengusap rambutku….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 4 Juni 2011 by in Catatan, Ceritaku, Cerpen and tagged .

Arsip

Pengunjung

  • 67,163 hits
%d blogger menyukai ini: