Jejak Langkah

cita, cinta, dan rasa

Speechless

Awalnya aku kurang suka dengan sikap ibu-ibu yang duduk dikursi sebelahku.  Wajahnya dingin, nada suaranya datar malah cenderung agak kasar. Bus yang kutumpangi mulai melaju, kesan tak sukaku semakin bertambah ketika ibu itu sedikit membentak kondektur  yang menarik uang pada penumpang. Aku semakin acuh dengan ibu itu, ku lempar pandanganku jauh menembus kaca-kaca bus itu.

“mbak permen, ambil aja” tiba-tiba ibu itu menawari aku permen, yang ditawarkannya adalah permen jadul yang booming ketika aku masih kecil dulu. Aku menolak halus tawaran ibu itu dengan mengucapkan “iya buk…terimakasih” sambil tersenyum tanpa mengambil permen itu. Tak kuduga tak kusangka  ibu itu terus memaksaku untuk mengambil permen itu, dan akhirnya dengan terpaksa kugerakkan tangganku untuk mengambilnya.

Percakapan antara aku dan ibu itupun dimulai diawali dari ibu itu yang tanya “kuliah dimana, semester berapa, hingga berapa jatah uang dari orang tuaku perbulan” waduh…pertanyaannya benar-benar membuatku berfikir, kalo masalah kuliah dimana, semester berapa itu sudah biasa, tapi kalo jatah uang perbulan…binggung aku menjawabnya, kira-kira yang pas berapa ya kalo ukuran mahasiswa biasa kayak aku…ya kujawab aja sedikit asal.

Percakapan kami terus mengalir hingga akhirnya ibu itu bercerita tentang anaknya yang juga hampir seumuran dengan aku, dia kuliah di salah satu universitas swasta,  dia kuliah dengan beasiswa penuh sepanjang tahun, dan artinya sama sekali tak ada suntikan dana segar dari orang tuanya,dia juga dapat beasiswa studi  di luar negeri, tapi karena sesuatu hal beasiswa itu tidak dia ambil.  bahkan dia bisa beli laptop dan motor sendiri. Katanya dulu dia sudah dibelikan motor tapi  terpaksa dijual untuk pengobatan ayahnya. Mendengar cerita itu rasanya malu pada diri sendiri..aku seperti kebanting…. Aku yang begitu tergantung dari supply dana orang tua, aku yang resah ketika saldo di ATM menipis, aku yang harap-harap cemas menanti kapan uangnya dikirim…haaaaah….benar-benar merasa begitu kerdil.

O…ya ibu itu cerita kalau suaminya sakit komplikasi sudah 10 tahun,  berbagai pengobatan telah dijalani tapi belum sembuh sampai sekarang, sampai hartanya banyak yang dijual untuk pengobatan suaminya itu. Sepertinya dia yang sekarang menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan di pasar. Sungguh besar jiwa ibu itu, perjuangan dan penggorbanannya. Kulihat sesaat wajahnya Nampak sedikit lelah tapi dimatanya ada kobaran semangat untuk memperjuangkan orang-orang yang dicintainya.

speechless mendengar cerita ibu itu,,,,tak bisa berkomentar, sebenarnya ingin mengatakan “yang sabar ya bu…” tapi aku merasa tak mampu mengucapkannya…sepertinya ibu itu jauh lebih tau tentang seperti apa kesabaran itu.

*dalam setiap kelebihan itu selalu ada kekurangan

2 comments on “Speechless

  1. bluerzy
    18 Juni 2011

    haaaaa… itulah Qt cit…
    kadang yow sungkan mo mnta uang tp yow gmn lagi…..

    • cheitz
      21 Juni 2011

      apalagi klo udah tua gini…sungkan banget….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 14 Juni 2011 by in Catatan, Ceritaku.

Arsip

Pengunjung

  • 67,163 hits
%d blogger menyukai ini: